IFI Berkolaborasi dengan Rumah Budaya Malik Ibrahim Gelar Pameran Seni Digital
IFI Berkolaborasi dengan Rumah Budaya Malik Ibrahim Gelar Pameran Seni Digital
Bertajuk Escape: Reloaded Generations Numeriques
Surabaya, Kabarindo- Institut Francais Indonesia (IFI) berkolaborasi dengan Rumah Budaya Malik Ibrahim (RBMI) menggelar pameran digital bertajuk Escape: Reloaded, Generations Numeriques di Sidoarjo mulai 28 Agustus hingga 5 September 2025.
Rilis dari IFI menyebutkan, pameran tersebut merupakan acara puncak program kolaborasi IFI dengan Rumah Budaya Malik Ibrahim yang berlangsung sepanjang tahun 2025 dalam rangka merayakan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Prancis. Program terdiri dari pemutaran film, diskusi, lokakarya dan lain-lain guna mengenalkan dan berbincang mengenai seni dan budaya Prancis. Seluruh rangkaian kegiatan pameran bersifat gratis dan terbuka untuk umum. IFI memberikan fasilitas pemandu pameran bagi kunjungan sekolah maupun kunjungan kelompok lainnya.
Pameran seperti itu pertama kali terselenggara pada 2021 dengan topik seputar pergolakan imbas revolusi digital. Ditampilkan sekitar 30 karya di berbagai negara yang menggabungkan karya seni digital, web dokumenter, permainan digital dan augmented reality.
Pameran kali ini menampilkan karya 8 seniman Prancis yaitu Chris Eley, Cristelle Oyiri, Dasha Ilina, Donatien Aubert, Justin Emard, Marion Balac, Thierry Fournier dan Seumboy Vrainom.
Pameran tersebut mengajak kita untuk merenungkan kembali peran manusia dalam ekosistem digital secara individu ataupun kelompok sebagai bagian dari upaya mendorong transisi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Melalui dua kurator, Eric Boulo dan Antonin Fourneau, Escape Reloaded secara lebih matang menawarkan solusi masalah-masalah digital kontemporer utama melalui sudut pandang seniman digita, bersamaan dengan munculnya wawasan akan praktik-praktik dan fungsi-fungsi baru.
Para peserta diajak menyelami pameran dimulai dari menyelami sejarah internet, dunia kapitalisme digital, big data dan kecerdasan buatan, yang diakhiri dengan mempertanyakan posisi manusia dalam ekosistem digital, baik sebagai individu maupun kolektif guna mempromosikan transisi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Untuk menunjang pameran, dijadwalkan talk show bertajuk Artificial Intelligence: Challenge or Chance yang membahas tantangan dan kesempatan yang mungkin luput di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dalam suasana digital sehari-hari. Talkshow kedua bertajuk “Hapean Teros!” mengajak para peserta untuk menilik kembali permainan tradisional kita yang sarat filosofi dan perannya dalam merangsang kemampuan imajinasi anak-anak.
Talkshow ketiga “Di Balik Mesin-mesin Bernyawa” dengan pembicara Toyol Dolanan Nuklir dijadwalkan pada 4 September 2025, bakal bercerita tentang aktivitas seputar kekaryaannya yang sering kali memanfaatkan, mengombinasi dan memodifikasi perangkat-perangkat elektronik. Minatnya pada seni eksperimental dan suara akan mengajak kita untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru perihal sebuah karya seni.
Talkshow terakhir “Manusia dan Robot Penggerak Peradaban” terjadwal 5 September 2025. Yudha dari Komunitas Kampung Robot akan mengajak kita untuk membicarakan robot sebelum lahir menjadi kecanggihan yang selama ini kita tonton, misalnya dalam film-film. Talkshow akan membahas sesuatu yang lebih mengagumkan di balik bagaimana robot-robot bisa bekerja, yang tersusun dari hitungan matematis, fisika, seni, mungkin sedikit aktivitas fisik dan permainan.
Foto: istimewa
Comments ( 0 )