Tak Sekadar Menjadi Bahan Baku Panci, Hilirisasi Bauksit MIND ID Memegang Kunci Kedaulatan Negeri
Jajaran Direksi MIND ID saat peresmian proyek hilirisasi bauksit beberapa waktu lalu. (FOTO : DOK.MIND ID)
_____
JAKARTA – Dua jam menjelang buka puasa, supermarket di mal Gandaria City jalan arteri Pondok Indah ramai pengunjung. Tak hanya pengunjung yang membeli makanan, tampak beberapa pengunjung membeli perlengkapan dapur. “Ini untuk memasak air, yang lama sudah bocor,”ungkap Ika Cahyani, warga Bintaro dengan nada setengah berbisik kepada putrinya.
Ditemui Kabarindo.com Jumat (20/2/2026), Ika mengaku selalu menggunakan panci alumunium. Alasannya, lebih cepat mendidih. Tak hanya itu, satu unit panci produksi pabrikan asal Surabaya dibanderol cukup murah, hanya Rp45.000.
Produk rumah tangga berbahan aluminium. (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C)
_____
“Mumpung diskon, saya beli tiga. Yang impor bisa Rp300 ribuan,”ujarnya. Selain mampu menghantarkan panas lebih cepat, dia menilai, bobot panci aluminium sangat ringan. “Sama seperti handphone saya ini menggunakan bahan aluminium, jadinya lebih ringan,”imbuhnya menyodorkan smartphone lansiran pabrikan Korea.
Ika hanyalah salah satu contoh masyarakat yang membutuhkan keberadaan aluminium. Namun demikian, sedikit masyarakat yang paham bahwa panci yang digunakan untuk memasak setiap pagi memiliki cerita perjalanan yang sangat panjang. Alat masak tersebut, sejatinya berasal dari batuan tanah berwarna kemerahan yang disebut bauksit.
Bauksit adalah bahan baku dari hampir semua benda berbahan aluminium yang disentuh setiap hari oleh masyarakat. Dari panci anti-lengket di dapur, kaleng minuman, kabel listrik yang menerangi rumah, hingga kerangka smartphone semuanya bermula dari bauksit.
“Bahan baku aluminium itu dari bijih bauksit, kita memiliki cadangan bauksit cukup besar. Nomor lima di dunia,”ujar Ketua Bidang Hilirisasi Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha kepada Kabarindo.com. Menurut Toha ada 98 Izin Usaha Pertambangan (IUP) bauksit, sebanyak 84 IUP di Kalimantan Barat.
Menurut Toha, peran bauksit sangat menentukan, terlebih kebutuhan aluminium menunjukkan tren meningkat. “Tercermin dari harga aluminium yang pada 2024 mencapai USD2.000 per ton, pada 2025 menjadi USD3.200 per ton,”ungkapnya. Dia menilai dengan pegerakan harga yang cenderung naik, semangat hilirisasi dan peningkatan nilai tambah akan semakin relevan. Toha mengungkapkan, cadangan bauksit indonesia 2,9 miliar ton. “Sumber dayanya 5,4 miliar ton. Jika produksi 31 juta ton sebagai acuan, cadangan bauksit Indonesia bisa 100 tahun,”ujarnya.
Smartphone berbahan aluminium. (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C).
______
Namun demikian, selama puluhan tahun, ada sebuah ironi besar, yakni bauksit di ekspor ke luar negeri dalam bentuk mentah, dengan harga murah. Indonesia kemudian embelinya kembali dalam bentuk barang jadi dengan harga berkali-kali lipat. Di sinilah peran strategis MIND ID masuk untuk memutus rantai tersebut melalui hilirisasi. Transformasi dilakukan ditujukan untuk eningkatkan nilai ekonomi produk. Dengan mengolahnya di dalam negeri, Indonesia tak lagi sekadar menjadi penonton di pasar global, melainkan pemain utama yang menentukan nilai jual produk mineral.
Kunci Kedaulatam Negeri
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjadi salah satu fokus utama Danantara Indonesia dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.
“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan beberapa waktu lalu.

Sebagai Holding BUMN Pertambangan, MIND ID memegang tongkat konduktor dalam simfoni hilirisasi ini. Melalui anggotanya seperti PT Antam,Tbk dan PT Inalum, MIND ID bergerak agresif membangun infrastruktur yang dibutuhkan. Salah satu bukti nyatanya adalah pembangunan proyek strategis Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR). Fasilitas ini menjadi penghubung tambang bauksit dengan pabrik peleburan aluminium. Dengan adanya ekosistem ini, MIND ID memastikan bahwa dari hulu (penambangan) hingga ke hilir (menjadi bahan baku panci atau komponen otomotif), semuanya dikelola oleh tangan anak bangsa.
MIND ID Bersama anggotanya, yakn Inalum dan Antam meresmikan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit – alumina – aluminium yang berlokasi di Mempawah Kalimantan Barat. Fasilitas ini terdiri dari Smelter Aluminium Baru dengan kapasitas 600.000 metrik ton aluminium per anum dan Smelter Grade Alumina Refinery Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per anum. Proyek ini ditujukan untuk mendukung program ketahanan mineral Indonesia, serta mendukung pasokan bahan baku bagi sektor industri manufaktur dalam negeri, sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional.
Melalui proyek strategis nasional ini, MIND ID mendorong peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat, dari bauksit menjadi alumina dan aluminium. Hal ini didasari dari harga bauksit mentah berada dikisaran USD40 per metrik ton, meningkat menjadi sekitar USD400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina dan kembali melonjak hingga sekitar USD2.800 – USD3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin mengatakan melalui hadirnya proyek ini dapat meningkatkan kemampuan produksi aluminium dari dalam negeri yang semakin kuat, serta menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu mengurangi ketergantungan impor aluminium. Menurutnya hadirnya fasilitas ini dapat menurunkan tingkat ketergantungan impor dan akan berdampak pada peningkatan cadangan devisa. Saat smelter aluminium baru beroperasi, diperkirakan cadangan devisa naik 394% dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Di samping itu, para pelaku industri manufaktur akan mendapat kepastian bahan baku dari dalam negeri.
“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan Negara pada sektor mineral, demi peradaban masa depan Indonesia,” pungkas Maroef. Indonesia membutuhkan sekitar 1 juta ton aluminium per tahun. Namun, kapasitas produksi dalam negeri saat ini sekitar 250.000–300.000 ton alias belum mencukupi. Sehingga Indonesia masih mengimpor aluminium dalam jumlah besar. Nah, untuk memproduksi 1 ton aluminium, dibutuhkan sekitar 2 ton alumina, dan 1 ton alumina membutuhkan sekitar 3 ton bijih bauksit. Dengan total cadangan nasional Indonesia mencapai 2,9 miliar ton cukup untuk mencapai kemandirian industri selama hampir satu abad.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria menegaskan, Inalum dan Antam akan menggarap proyek ini melalui perusahaan joint venture mereka, PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI), dengan total investasi mencapai USD6,32 miliar atau setara dengan Rp104,55 triliun. Proyek tersebut ditargetkan beroperasi pada 2028 mendatang.
Muhammad Toha menambahkan, hilirisasi bauksit yang digerakkan oleh MIND ID bukan hanya soal mengurangi impor semata, tetapi sebagai upaya nyata untuk memastikan kekayaan alam Indonesia memberikan manfaat maksimal bagi rakyatnya. Dengan hilirisasi, Indonesia sedang membangun fondasi ekonomi yang kokoh.
Comments ( 0 )