Mudik dan Peran Strategis Bhabinkamtibmas dalam Membangun Kepercayaan Publik

Mudik dan Peran Strategis Bhabinkamtibmas dalam Membangun Kepercayaan Publik

KABARINDO, JAKARTA - Mudik bukan sekadar perpindahan masyarakat dari kota ke kampung halaman, tetapi merupakan peristiwa sosial berskala besar yang mempertemukan harapan, kerentanan, emosi, serta kebutuhan akan rasa aman secara bersamaan. Dalam situasi mobilitas tinggi ini, kehadiran aparat yang dipercaya menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.

Buku “Pejera Bhabinkamtibmas: Panacea dalam Membangun Public Trust” karya Brigjen Pol. Dr. M. Awal Chairuddin menegaskan bahwa kepercayaan publik merupakan faktor kunci keberhasilan pelayanan publik, khususnya dalam tugas Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak Polri di tengah masyarakat. Konsep “Pejera” dianalogikan sebagai instrumen penajam fokus, yakni memusatkan peran aparat pada upaya membangun rasa aman, kedekatan, dan kepercayaan masyarakat.

Menurut Prof. Dr. Haedar Akib, Guru Besar Ilmu Administrasi Universitas Negeri Makassar dan Dosen Program Pascasarjana Universitas Puangrimaggalatung (UNIPRIMA) Sengkang, kepercayaan publik tidak lahir dari slogan atau simbol institusi semata, tetapi tumbuh dari pengalaman nyata masyarakat terhadap kualitas pelayanan aparat di lapangan. Dalam momentum mudik, masyarakat menilai langsung apakah negara hadir melalui aparat yang responsif, mudah dihubungi, dan mampu memberikan rasa aman.

Dalam konteks tersebut, peran Bhabinkamtibmas tidak hanya sebatas pengamanan arus kendaraan, tetapi juga menghadirkan negara melalui pelayanan yang nyata: memberi informasi keamanan, memediasi konflik sosial, serta membangun komunikasi langsung dengan warga di tingkat desa, kelurahan, dan kampung.

Meski demikian, hasil survei terhadap 479 responden di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa tingkat pengenalan masyarakat terhadap Bhabinkamtibmas masih terbatas. Hanya sekitar seperlima responden yang mengetahui akronim Bhabinkamtibmas dan sekitar 51,8 persen masyarakat belum memiliki kontak aparat tersebut di wilayahnya. Temuan ini menunjukkan pentingnya meningkatkan aksesibilitas, kedekatan sosial, dan komunikasi antara aparat dan masyarakat.

Buku ini juga menawarkan model PANACEA sebagai prinsip kerja Bhabinkamtibmas, yakni Profesional, Amanah, Netral, Akuntabel, Cekatan, Etik, dan Adil, yang dipertegas melalui slogan “Polisi Antisipasi Kecemasan Anda.” Nilai-nilai ini diyakini mampu memperkuat kepercayaan publik ketika benar-benar dirasakan masyarakat dalam pelayanan sehari-hari.

Momentum mudik menjadi ujian nyata hubungan antara aparat dan masyarakat. Ketika jutaan orang bergerak serentak dan banyak rumah ditinggalkan, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa keamanan lingkungan tetap terjaga dan persoalan sosial dapat ditangani dengan cepat. Dalam situasi tersebut, kehadiran Bhabinkamtibmas sebagai aparat yang dekat dengan warga menjadi representasi paling nyata dari negara dalam menyediakan rasa aman sebagai barang publik.

Melalui pendekatan kedekatan sosial, komunikasi yang terbuka, respons cepat, serta pemberdayaan masyarakat dalam menjaga keamanan lingkungan, konsep Pejera Bhabinkamtibmas diharapkan mampu memperkuat kepercayaan publik. Dengan demikian, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang ke kampung halaman, tetapi juga momentum memperbarui kepercayaan masyarakat kepada aparat dan institusi negara.