Menhaj Gus Irfan Dorong Transformasi Mental dan Integritas ASN Kementerian Haji

Menhaj Gus Irfan Dorong Transformasi Mental dan Integritas ASN Kementerian Haji
Menhaj Gus Irfan Dorong Transformasi Mental dan Integritas ASN Kementerian Haji

JAKARTA -- Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, yang akrab disapa Gus Irfan memberikan penekanan kuat pada urgensi pergeseran pola pikir serta pengokohan integritas bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Kementerian Haji dan Umrah. Pesan ini diutarakan saat agenda Pembinaan ASN Kementerian Haji dan Umrah RI yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

​Menhaj memaparkan bahwa lahirnya kementerian baru ini membawa konsekuensi pada tuntutan profesionalitas, efektivitas, serta sinergi dalam bekerja. Gus Irfan menginstruksikan penghapusan gaya kerja birokrasi yang kaku dan lambat agar berganti menjadi sistem yang lebih dinamis serta mengutamakan pencapaian target.

​“Integritas adalah fondasi utama. Penyelenggaraan haji dan umrah adalah amanah suci yang dititipkan negara dan umat. Tidak boleh ada ruang bagi penyimpangan atau konflik kepentingan yang mencederai kepercayaan publik,” tegas Menhaj, dikutip Rabu (21/1/2026).

​Demi menjamin pelayanan prima bagi jemaah, Menhaj menyatakan bahwa seluruh regulasi wajib difokuskan pada aspek kemudahan, kepastian hukum, kenyamanan, serta keamanan jemaah sebagai representasi kehadiran negara secara nyata.

​Para pegawai di lingkungan Kemenhaj, menurut Gus Irfan, juga memiliki kewajiban untuk memperdalam kemampuan teknis, kepemimpinan, hingga penguasaan teknologi digital.

​“Transformasi digital ini penting sekali, maka dari itu kami ingin adanya penguatan tata kelola melalui sistem digital yang terintegrasi mulai dari perencanaan hingga pertanggungjawaban untuk membangun governance yang lebih baik,” terang Menhaj.

​Mochamad Irfan Yusuf turut mengingatkan bahwa tiap fase dalam penyelenggaraan haji memegang peranan vital, mulai dari urusan administrasi pembiayaan hingga kesiapan personel di area lapangan.

​“Setiap tahapannya harus dipahami sebagai satu rangkaian proses yang tidak terpisahkan. Kelalaian kecil dapat berdampak besar pada citra negara,” ujarnya.

​Mengakhiri instruksinya, Menhaj menyerukan agar seluruh jajaran memandang pengabdian ini sebagai sarana ibadah yang dilakukan secara tulus dan berdedikasi tinggi. Melalui komitmen kolektif, ia optimis tata kelola haji dan umrah di masa depan akan lebih transparan, kredibel, dan menjawab ekspektasi masyarakat luas.