Jurnalis Perempuan Bakal Pentas, Angkat Luka Bencana Lewat Teatrikal Kemanusiaan
Jurnalis Perempuan Bakal Pentas, Angkat Luka Bencana Lewat Teatrikal Kemanusiaan
KABARINDO, SURABAYA - Sebuah pementasan teatrikal kemanusiaan akan digelar di Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal, Medan, pada Sabtu (7/3/2026). Teatrikal ini akan dimainkan oleh para jurnalis perempuan dan seniman teater Medan dengan judul "Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan".
Teatrikal tersebut disutradarai oleh seniman teater dari Medan, Hafiz Taadi, pendiri Medan Teater Tronic (MTT) yang juga pernah berguru pada Rendra. Usai pertunjukan dan tanya jawab, ruang akan beralih menjadi ruang silaturahmi, berbuka puasa bersama.
Pementasan yang lahir dari kolaborasi Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR) dan Medan Teater Tronic ini adalah sebuah cara kreatif menyampaikan pesan agar publik tidak melupakan bencana yang melanda Sumatera.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum FJPI, Khariah Lubis. Ia mengatakan, setelah banjir bandang surut dan pemberitaan meredup, perjuangan sesungguhnya justru dimulai yaitu pemulihan.
“Isu bencana Sumatera harus terus naik di media, agar penanganan korban bisa cepat dan pasti,” ujarnya.
Perempuan yang akrab disapa Awi ini menjelaskan, dari data yang disampaikan Ketua Satgas Pemulihan Bencana Banjir di Pulau Sumatera, Tito Karnavian, disebutkan sekitar 13 ribu warga masih bertahan di tenda pengungsian pada awal Ramadan ini. Hal ini menjadi ironi karena banjir sudah terjadi selama tiga bulan. Sebagian warga kini tinggal di hunian sementara, sebagian lagi membangun tenda di atas puing rumah mereka, ada pula yang menyewa rumah jika memiliki kemampuan. Tak sedikit yang kembali ke rumah rusak dengan segala risiko.
“Korban bencana memiliki keterbatasan untuk bertahan lama di pengungsian. Karena itu, pementasan ini bukan hanya panggung ekspresi untuk menyuarakan mereka, tetapi juga ruang penggalangan donasi. Dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan langsung ke daerah terdampak,” ujar Awi.
Ia menambahkan, bagi FJPI, pementasan itu bukan pertama kali jurnalisme dihadirkan lewat seni. Pada 2024, saat ulang tahun ke-17, mereka mementaskan kisah-kisah tentang persoalan yang dihadapi jurnalis perempuan dengan judul Tulang Panggang. Kini yang diangkat adalah jurnalisme bencana sebagai suara bagi mereka yang masih terdiam di tenda-tenda pengungsian.
“Teater dipilih karena pers di berbagai negara terus mencari cara kreatif menyampaikan informasi. Melalui tubuh dan dialog, pesan bisa menembus sekat emosi, menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam. Teatrikal kemanusiaan ini diharapkan menjadi pengingat bahwa tanggung jawab pemulihan bukan hanya milik korban, tetapi juga pemerintah dan seluruh elemen masyarakat,” kata Awi.
Sementara itu, sebagai penggagas ide dan penulis naskah, Ranggini yang juga Ketua Rumah Literasi Ranggi, mengatakan ingin terus memperluas gerakan literasi melalui baca-tulis, juga melalui karya seni yang menyentuh kesadaran publik.
“Kolaborasi ini diharapkan menjadi ruang refleksi bersama bahwa seni seperti teater dapat menjadi medium kuat untuk menyuarakan nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial. Melalui kegiatan ini, masyarakat luas diundang untuk menyaksikan pertunjukan, sekaligus menjadi bagian dari gerakan kebaikan melalui dukungan dan donasi yang akan disalurkan untuk membantu korban banjir di Sumatera,” ujarnya.
Donasi dapat disalurkan melalui BCA Syariah No. Rekening 0500059613 atas nama Yayasan Rumah Literasi Ranggi. Setiap kepedulian yang diberikan, diharapkan menjadi cahaya harapan bagi mereka yang sudah 3 bulan lebih menderita akubat banjir bandang Sumatera.
Foto: istimewa
Comments ( 0 )