Jusuf Kalla Tekankan Peran Masjid dan Perempuan dalam Penguatan Ekonomi Umat
KABARINDO, JAKARTA - Ketua Umum DMI,Jusuf Kalla menegaskan pentingnya peran masjid dan perempuan dalam mendorong kemajuan umat Islam, khususnya di bidang ekonomi dan kesejahteraan. Hal itu disampaikannya saat menutup Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 Badan Kontak Majelis Taklim Masjid (BKMM) Dewan Masjid Indonesia (DMI) di Jakarta, Minggu (19/4/2026).
Dalam sambutannya, Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia tersebut mengapresiasi kontribusi BKMM selama ini dalam membina umat melalui kegiatan keagamaan dan sosial. Ia menyebut majelis taklim tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengajian, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.
“Kegiatan di masjid harus lebih luas, bukan hanya dakwah, tetapi juga memajukan umat, khususnya kaum ibu,” ujar Kalla.
Ia mencontohkan peran perempuan dalam sejarah Islam, seperti Khadijah binti Khuwailid yang menjadi pendukung utama dakwah Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis dalam membangun kekuatan umat.

Lebih lanjut, Kalla menyoroti fungsi masjid sebagai pusat persatuan umat Islam tanpa memandang perbedaan mazhab atau organisasi. Ia juga membandingkan pengelolaan masjid di luar negeri, seperti di Jepang, yang dinilai lebih produktif dan beragam kegiatannya.
“Masjid di Jepang tidak hanya untuk ibadah, tapi juga pendidikan, kegiatan sosial, bahkan ekonomi umat,” katanya.
Kalla menilai tantangan umat Islam saat ini adalah ketertinggalan di bidang ekonomi. Oleh karena itu, ia mendorong majelis taklim untuk memperluas kegiatan ke arah peningkatan keterampilan dan kewirausahaan, seperti pelatihan kuliner, kerajinan, dan usaha kecil.
Menurutnya, ajaran Islam tidak hanya mencakup akidah dan ibadah, tetapi juga muamalah atau aktivitas ekonomi dan sosial. Tanpa kemajuan ekonomi, kata dia, sulit bagi umat untuk berkontribusi dalam pembangunan, termasuk dalam penyediaan fasilitas pendidikan dan sosial.
Selain itu, Kalla juga menyinggung pentingnya implementasi nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, disiplin, dan kebersihan. Ia membandingkan dengan masyarakat Jepang yang dinilai berhasil menerapkan nilai-nilai tersebut secara nyata.
Di akhir sambutannya, Kalla menyampaikan ucapan selamat kepada kepengurusan baru Badan Kontak Majelis Taklim Masjid serta apresiasi kepada pengurus sebelumnya atas dedikasi mereka.
Ia berharap BKMM dapat terus meningkatkan kualitas kegiatan yang adaptif terhadap perubahan zaman, sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
“Zaman terus berubah, maka cara kita juga harus berkembang, namun tetap dalam koridor nilai-nilai Islam,” tutupnya.
Sementara itu,Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama RI, Mukhlis M. Hanafi, menegaskan peran strategis majelis taklim dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat Indonesia.
Mukhlis menyebut, majelis taklim di Indonesia memiliki kekhasan yang tidak ditemukan di banyak negara lain, termasuk di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, majelis taklim tidak hanya menjadi tempat pembelajaran agama, tetapi juga berkembang sebagai ruang aktivitas sosial, ekonomi, hingga penguatan solidaritas masyarakat.
“Majelis taklim memiliki peran yang sangat strategis. Tidak hanya sebagai tempat belajar mengaji, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, ketahanan keluarga, hingga penguatan harmoni masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia, majelis taklim menjadi bagian dari pembinaan masyarakat Islam melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, khususnya Direktorat Penerangan Agama Islam.
Mukhlis juga menyoroti pentingnya peran majelis taklim di era digital. Ia menilai, derasnya arus informasi, termasuk konten keagamaan yang tidak terverifikasi, menuntut majelis taklim untuk menjadi penjaga otoritas keilmuan sekaligus penyaring informasi.
“Majelis taklim harus menjadi filter terhadap hoaks dan informasi keagamaan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, sekaligus menjadi produsen konten-konten kebaikan,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kontribusi majelis taklim dalam isu ketahanan pangan dan lingkungan. Mengutip laporan global, Mukhlis menyebut fenomena pemborosan makanan (food waste) sebagai persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.
“Di satu sisi masih banyak masyarakat yang kekurangan pangan, tetapi di sisi lain terjadi pemborosan makanan dalam jumlah besar. Ini menjadi tantangan bersama, termasuk peran ibu-ibu di majelis taklim,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Agama, hingga 2024 tercatat sekitar 97 ribu majelis taklim di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut dinilai sebagai potensi besar dalam memperkuat program keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Mukhlis mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi antarorganisasi, termasuk dengan Dewan Masjid Indonesia, guna mengoptimalkan peran majelis taklim.
“Jika potensi ini disinergikan, maka akan menjadi kekuatan luar biasa dalam membangun masyarakat yang religius sekaligus sejahtera,” pungkasnya.
Comments ( 0 )