Menkeu: Harga BBM Bersubsidi Tak Naik Sampai Akhir Tahun
KABARINDO, JAKARTA--Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah menjamin harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan meningkat hingga akhir tahun. Hal ini ditegaskan kembali oleh Purbaya dalam paparan rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).
Purbaya pun meminta masyarakat tidak perlu khawatir perihal kenaikan harga BBM subsidi ke depannya."Ini memerlukan bantalan jika kenaikan harga minyak tinggi sekali, misalnya tak terkendali. Dari situ kita akan aman," ujarnya.
"Yang penting adalah dananya ada, cushionnya (bantalannya) ada," tegasnya. Bahkan, kata Purbaya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjanjikan kenaikan penerimaan negara dari efek kenaikan harga minyak dan harga batu bara di pasar dunia.
"Jadi masyarakat tidak perlu khawatir. Kalau kepepet, masih ada yang lain. Masih ada yang lain, jadi pertahanan kita berlapis-lapis," paparnya.
Pernyataan Purbaya ini memicu pernyataan dari Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun: "Bahwa exercise harga BBM di level US$ 80 per barel, US$ 90 per barel, negara sudah siap?"
Purbaya pun menjawab bahwa pemerintah sudah siap menahan guncangan hingga level US$ 100 per barel. Misbakhun bertanya kembali: "Siap hingga akhir tahun?"
Purbaya menegaskan: "Siap hingga akhir tahun." Tujuan penegasan ini, menurut Misbakhun, agar masyarakat paham dan tahu bahwa pemerintah tidak akan menaikkan BBM hingga akhir tahun.
"Ya Pak, kami siap tidak menaikkan hingga akhir tahun untuk BBM bersubsidi ya, dengan asumsi harga minyak US$ 100 per barel hingga akhir tahun," tegas Purbaya.
Penegasan Purbaya ini disambut tepuk tangan oleh anggota Komisi XI DPR RI. Purbaya menjelaskan level US$ 100 per barel adalah rerata yang ditetapkan pemerintah.
Jika ada kenaikan di atas level tersebut, Purbaya memastikan kenaikan masih aman. Jika kenaikan terus terjadi, Purbaya menuturkan pihaknya memiliki cushion atau buffer yang tadi disampaikannya.
Sebelumnya, Purbaya menuturkan pemerintah tengah menyiapkan Rp 90 triliun hingga 100 triliun dari sebagai buffer kenaikan harga minyak.
Source: CNBC
Comments ( 0 )