Masjid Agung Cirebon Jadi Tempat Singgah Musafir di Akhir Ramadan
KABARINDO, CIREBON -- Di penghujung Ramadhan, Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kota Cirebon, Jawa Barat, dipadati masyarakat yang datang untuk beribadah sekaligus berwisata religi. Masjid bersejarah tersebut menjadi salah satu tujuan utama pengunjung dari berbagai daerah yang ingin merasakan suasana spiritual di ruang ibadah yang sarat nilai sejarah ini.
Sejak sore hari, aktivitas jamaah mulai terlihat meningkat. Menjelang waktu berbuka puasa, pengunjung datang silih berganti, baik secara individu maupun bersama keluarga. Sebagian memilih berdoa dan berzikir di dalam masjid, sementara lainnya duduk tenang di pelataran, menunggu waktu berbuka sebelum melaksanakan salat tarawih.
Keberadaan masjid di kawasan Keraton Kasepuhan ini menghadirkan suasana religius yang khas. Tradisi ibadah yang berlangsung berdampingan dengan jejak sejarah menjadikan Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi juga ruang refleksi bagi para pengunjung yang datang dari luar kota.
Secara arsitektur, masjid ini mempertahankan bentuk tradisional dengan nuansa klasik yang tetap terjaga. Tampilan luarnya sederhana, ditandai gerbang bata merah yang menjadi ciri utama bangunan. Ornamen kaligrafi di bagian atas pintu menambah kesan historis sekaligus sakral, memperkuat identitas masjid sebagai salah satu peninggalan penting dalam perkembangan Islam di Cirebon.
Memasuki bagian dalam, suasana masjid terasa lapang dan terbuka. Struktur bangunan didominasi oleh tiang-tiang kayu besar berwarna gelap yang menopang atap berbentuk limasan khas arsitektur Jawa. Susunan rangka atap terlihat jelas, memperkuat kesan tradisional dan memperlihatkan teknik konstruksi masa lampau.
Lantai masjid menggunakan ubin berwarna cokelat mengilap dengan garis-garis saf yang tersusun rapi, memudahkan jamaah dalam beribadah. Pencahayaan di dalam ruangan berasal dari lampu gantung klasik di bagian tengah serta beberapa lampu tambahan di sisi ruangan, menciptakan suasana hangat dan tenang.
Tidak banyak ornamen berlebihan di dalam masjid, namun justru kesederhanaan tersebut menghadirkan kesan khusyuk. Ruangannya terasa sejuk dan tenang, cocok untuk beribadah maupun sekadar beristirahat bagi musafir.
Salah satu pengunjung asal Tangerang, Nana, mengaku sengaja menyempatkan diri singgah di masjid tersebut saat mudik ke Beber, Cirebon.
“Kebetulan lagi di Cirebon, dekat masjid, jadi mampir sekalian shalat. Ini juga malam terakhir Ramadhan, sekalian jalan-jalan dan ibadah,” katanya.
Ia mengatakan kunjungannya tidak hanya didorong oleh momentum Ramadhan, tetapi juga karena nilai sejarah yang melekat pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
“Ini kan patilasan para wali. Saya percaya shalat di sini bisa dapat berkah. Itu yang bikin istimewa,” ujarnya.
Menurut dia, kunjungan ke masjid tersebut menjadi kebiasaan setiap kali pulang kampung, terutama saat ada kegiatan keagamaan seperti peringatan Maulid Nabi.
“Kalau lagi di rumah, suka disempetin ke sini. Apalagi kalau ada acara Maulid, biasanya ramai,” katanya.
Bangunan masjid memiliki nilai historis sekaligus arsitektur khas yang memadukan unsur budaya Jawa dan pengaruh Majapahit. Ciri tersebut terlihat dari penggunaan material bata merah serta bentuk bangunan yang sederhana.
Nama “Sang Cipta Rasa” berasal dari kata “Sang” yang bermakna keagungan, “Cipta” yang berarti dibangun, dan “Rasa” yang merujuk pada pemanfaatannya.
Selain itu, pintu masuk masjid yang relatif rendah menjadi salah satu ciri khas, yang dimaknai sebagai simbol kerendahan hati bagi setiap orang yang datang untuk beribadah.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi, terutama pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadhan dan peringatan hari besar keagamaan.
Kehadiran pengunjung dari berbagai daerah pada akhir Ramadhan menunjukkan bahwa Masjid Agung Sang Cipta Rasa tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang refleksi spiritual bagi masyarakat yang datang dengan latar belakang dan tujuan yang beragam.
Comments ( 0 )