Kecanduan Media Sosial hingga Terapi Berbasis AI, Tantangan Kesehatan Mental di Era Digital

Kecanduan Media Sosial hingga Terapi Berbasis AI, Tantangan Kesehatan Mental di Era Digital

Kecanduan Media Sosial hingga Terapi Berbasis AI, Tantangan Kesehatan Mental di Era Digital

KABARINDO, SURABAYA - Sebagai institusi pendidikan kelas dunia, Sampoerna University mempersiapkan lulusannya dengan keterampilan masa depan yang adaptif.

Sampoerna University menghadirkan diskusi umum bertajuk “The Battle for Your Attention: Psychology in the Age of Social Media and AI” oleh Dr. Belinda S.L. Khong. Acara yang merupakan bagian dari rangkaian acara Dies Natalis Sampoerna University ke-13 ini, menyoroti krisis kesehatan mental di era digital, di mana ketergantungan terhadap media sosial dan AI semakin tinggi.

Melalui acara ini, Sampoerna University mengambil peran aktif dalam merespon isu tersebut dengan mendorong solusi serta mempersiapkan lulusan psikologi yang adaptif dan tetap berfokus pada aspek kemanusiaan.

Dr. Marshall Schott, President of Sampoerna University, menekankan perkembangan teknologi baik media sosial maupun AI, termasuk dalam bidang terapi mental, tidak dapat dihindari.

“Yang penting adalah bagaimana kita sebagai institusi pendidikan dapat adaptif dan mempersiapkan mahasiswa, khususnya di bidang psikologi, untuk memahami peran teknologi ini tanpa mengesampingkan aspek hubungan antar manusia yang menjadi inti dari praktik kesehatan mental,” ujarnya.

Dalam sesi diskusi yang dibawakan oleh Dr. Belinda S.L. Khong, psikolog konsultan asal Australia, dijelaskan bahwa penggunaan gawai sejak dini dapat membentuk dopamin yang kuat pada otak anak dan remaja. Dopamin ini memicu keinginan (craving) untuk mencari stimulasi yang lebih besar, sehingga mendorong perilaku adiktif pada mereka seiring waktu.

Selain media sosial, Dr. Khong mengatakan bahwa perkembangan teknologi menghadirkan inovasi sekaligus tantangan baru, di mana semakin banyak individu memilih berkonsultasi tentang kesehatan mental melalui AI dibandingkan dengan tenaga medis profesional. Istilah ini dikenal dengan AItherapy (terapi berbasis AI), yang menggunakan kecerdasan buatan untuk memberikan dukungan kesehatan mental, melalui interaksi berbasis teks atau suara.

“Meski menawarkan berbagai kemudahan, AI tetap memiliki keterbatasan dan tidak dapat menggantikan peran tenaga medis profesional, termasuk dalam hal memberikan terapi kesehatan mental,” ujar Dr. Khong.

Foto: ilustrasi - istimewa