Di Kuartal I 2026, PGE Cetak Laba Bersih 43,9 Juta Dolar AS
KABARINDO, JAKARTA -,PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (kode saham: PGEO) membukukan laba bersih sebesar 43,9 juta dolar AS pada kuartal I 2026.
Capaian tersebut naik 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 32,4 juta dolar AS.
“Pertumbuhan ini didorong oleh efektivitas strategi bisnis berkelanjutan yang dijalankan perseroan. Selain itu, capaian ini juga menempatkan PGE pada posisi keuangan yang solid untuk terus tumbuh secara berkelanjutan,” kata Direktur Keuangan PGE Fransetya Hutabarat dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026, PGE membukukan pendapatan sebesar 116,6 juta dolar AS atau meningkat 14,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan 101,5 juta dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, dalam laporan keuangan interim tersebut PGE mencatatkan total aset perseroan mencapai 3,06 miliar dolar AS, naik 0,71 persen dibandingkan 31 Desember 2025.
Adapun kas dan setara kas mencapai 745,2 juta dolar AS, tumbuh 3,72 persen dibandingkan 31 Desember 2025.
Dari segi ekuitas, perseroan mencatatkan peningkatan dari 2,04 miliar dolar AS pada kuartal I 2025 menjadi 2,09 miliar dolar AS pada kuartal I 2026. Peningkatan ini menunjukkan bahwa PGE berada dalam kondisi keuangan yang sehat, dengan kemampuan yang kuat dalam memenuhi kewajiban dan menghasilkan laba.
Sementara itu, liabilitas perseroan turun 2,44 persen dibandingkan 31 Desember 2025, menjadi 964,7 juta dolar AS. Penurunan ini berdampak positif terhadap penguatan struktur modal serta penurunan risiko keuangan perseroan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan bahwa di tengah ketegangan geopolitik dan krisis energi global, transisi energi harus tetap menjadi prioritas.
“Kondisi global tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin mengoptimalkan pengembangan panas bumi. Sejalan dengan itu, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama: optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru," kata Ahmad.
"Kinerja solid PGE dalam beberapa tahun terakhir menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan berkelanjutan. Ke depan, kami untuk terus berekspansi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Perkembangan sektor energi baru terbarukan (EBT) juga menunjukkan arah yang semakin positif.
Hal itu tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) periode 2025-2034, yang menargetkan porsi EBT mencapai 76 persen. Selama periode tersebut, panas bumi ditargetkan menyumbang kapasitas sebesar 5,2 gigawatt (GW).
Untuk mendukung pencapaian target tersebut, PGE menargetkan kapasitas terpasang sebesar 1 GW pada 2028 dan 1,8 GW pada 2034.
Saat ini, perseroan mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 727 megawatt (MW), serta berkontribusi signifikan terhadap pasokan listrik di berbagai daerah.
Dengan mengelola sekitar 70 persen dari total kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGE menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung sistem kelistrikan nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
"Selain itu, PGE juga mencatatkan kinerja unggul dalam aspek keberlanjutan dengan meraih peringkat ESG tertinggi di Indonesia, yakni skor 7,1 dari Sustainalytics. PGE menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025," tutur dia.
Comments ( 0 )