Bahkan Paus Leo pun Dihinanya

Bahkan Paus Leo pun Dihinanya

Oleh: Hasyim Arsal Alhabsy

De Hills Institute

Dalam sejarah panjang konfrontasi antara kekuasaan politik dan otoritas moral, ada semacam garis tak tertulis yang dijaga oleh bahkan pemimpin paling otoriter sekalipun: jangan menyentuh simbol yang melampaui negara. Karena menyentuhnya berarti mengakui bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirimu — dan itulah hal yang paling tidak bisa ditoleransi oleh Donald Trump.

Maka ketika Paus Leo XIV mulai bersuara — mengkritik kebijakan deportasi yang ia sebut tidak manusiawi, menolak undangan perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika demi memilih hadir di Lampedusa bersama para imigran yang menyeberangi Mediterania dengan nyawa sebagai taruhannya, lalu secara langsung menyebut ancaman Trump terhadap Iran sebagai “sepenuhnya tidak dapat diterima” — Trump bereaksi bukan dengan argumen, melainkan dengan cara yang sudah kita hafal: dengan label.

“WEAK on crime and terrible for Foreign Policy.”

Begitu Trump menyebut pemimpin rohani 1,4 miliar jiwa di seluruh bumi. Bukan dalam rapat tertutup. Bukan dalam bisikan diplomatik. Tapi di Truth Social, malam hari, sepulang dari Florida, seolah ia baru saja mengkritik seorang politisi oposisi yang tidak becus bekerja.

Yang paling “gila” bukan hinaan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi sesudahnya.

Beberapa jam setelah menyerang Paus, Trump mengunggah gambar AI dirinya bergaya Yesus — jubah putih bercahaya, tangan diulurkan ke arah orang sakit, langit berlatar bendera Amerika dan jet-jet tempur. Ia mengklaim itu hanya “gambaran dokter yang berkaitan dengan Palang Merah.” Tidak ada yang mempercayainya. Bahkan sebagian pendukungnya sendiri menyebutnya gross blasphemy. Gambar itu akhirnya dihapus.

Tapi kerusakan simboliknya sudah terjadi — dan saya rasa itu memang disengaja, setidaknya secara bawah sadar.
Karena inilah yang sesungguhnya sedang berlangsung: Trump tidak lagi puas menjadi Presiden. Jabatan itu terlalu terbatas, terlalu fana, terlalu bergantung pada pemilu dan siklus empat tahunan. Yang ia inginkan adalah sesuatu yang lebih permanen — sebuah otoritas yang tidak perlu diperbarui oleh suara rakyat. Dan satu-satunya otoritas semacam itu yang ia kenal adalah otoritas yang bersifat sakral.

Maka ia masuk ke sana. Dengan gambar AI. Dengan retorika mesias. Dengan klaim bahwa Paus Leo hanya terpilih karena Trump ada di Gedung Putih — “If I were not in the White House, Leo would not be in the Vatican.”

Ini bukan sekadar narsisme. Ini adalah pola yang lebih tua dari Trump sendiri: ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup diakui oleh manusia, ia mulai mengklaim wilayah yang lebih tinggi.

Paus Leo XIV menjawabnya dari atas pesawat menuju Aljir, memulai perjalanan pastoral 10 hari ke Afrika:

“Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, dan saya tidak akan ragu untuk menyuarakan pesan Injil.”

Lalu ia melanjutkan perjalanannya.
Tidak ada amarah. Tidak ada konferensi pers yang dramatis. Tidak ada balasan di media sosial. Ia hanya melanjutkan perjalanannya — seolah Trump adalah gangguan kecil di antara misi yang jauh lebih besar dari keduanya.

Dan di sinilah kontras yang paling menohok itu terletak: seorang lelaki yang menguasai mesin perang dan ekonomi terbesar di bumi merasa perlu berteriak kepada seorang pendeta yang baru saja boarding ke pesawat menuju benua Afrika. Siapa di antara keduanya yang tampak lebih kuat? Siapa yang tampak lebih kecil?

Sejarah punya cara yang tenang namun pasti dalam menghukum hubris. Firaun membangun piramida agar namanya abadi — dan yang abadi justru kisah bagaimana ia tenggelam. Nebukadnezar membangun taman gantung untuk membuktikan kekuasaannya atas alam — dan yang diingat justru kegilaannya yang tujuh tahun. Setiap pemimpin yang merasa dirinya melampaui batas manusiawi, pada akhirnya membangun menara Babelnya sendiri dengan tangannya sendiri.

Trump mungkin tidak membaca cukup banyak sejarah untuk menyadari pola ini. Atau mungkin ia membacanya, tapi yakin bahwa kali ini akan berbeda.

Tulisan ini bukan semata tentang Trump. Ia adalah cermin yang lebih lebar dari itu.
Kita hidup di era di mana kebisingan semakin sering disalahartikan sebagai kekuatan, dan ketenangan disalahartikan sebagai kelemahan. Di mana seorang pemimpin yang berteriak “lemah!” kepada orang yang diam dipandang tegas, sementara orang yang diam dan terus berjalan dipandang kalah.

Padahal kita semua tahu — atau seharusnya tahu — bahwa kekuatan sejati tidak memerlukan kerumunan yang bertepuk tangan untuk membuktikan dirinya nyata.

Leo tidak membutuhkan Trump untuk menjadi Paus. Namun Trump, tampaknya, sangat membutuhkan Leo untuk menjadi musuh.

Dan itulah, pada akhirnya, yang paling menyedihkan dari seluruh episode ini: bukan bahwa seorang presiden menghina seorang Paus, melainkan bahwa ia merasa perlu melakukannya.