Transformasi Kemandirian Pangan, Ada Peran Lamipak Indonesia dalam Program MBG

Transformasi Kemandirian Pangan, Ada Peran Lamipak Indonesia dalam Program MBG
Transformasi Kemandirian Pangan, Ada Peran Lamipak Indonesia dalam Program MBG

Pabrik LamiPak Indonesia di kawasan industri Cikande, Serang, Banten. (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C)

----

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) menggelar rapat pembahasan Rancangan Peraturan Badan Gizi Nasional tentang penggunaan produk dalam negeri serta pelibatan pelaku usaha dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Rancangan regulasi ini disusun untuk memastikan pelaksanaan Program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi nasional melalui penggunaan produk dalam negeri serta keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan bergizi.

Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati, mengatakan pengaturan tersebut merupakan tindak lanjut dari amanat Peraturan Presiden 115/2025 mengenai tata kelola penyelenggaraan Program MBG.

“Pengaturan ini penting untuk memastikan bahwa pelaksanaan Program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional melalui peningkatan penggunaan produk dalam negeri,” ujar Hida di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ya, keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah sangat bergantung pada ekosistem rantai pasok yang efisien dan higienis.

Tanpa rantai pasok (supply chain) yang kuat, program ini berisiko menghadapi pembengkakan biaya, penurunan kualitas gizi, hingga masalah keamanan pangan. “Makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat MBG harus terjaga kualutasnya. Karenanya rantai pasok ini penting untuk menjaga kualitas makanan, termasuk masalah kemasan harus diperhatikan,”tegas Pemerhati Kebijakan Publik yang juga Direktur Dehills Institute Hasyim Arsal Alhabsyi kepada Kabarindo.com, Jumat (13/3/2026).

Menurur dia, tantangan mendistribusikan jutaan porsi makanan bergizi setiap hari ke seluruh pelosok Nusantara bukan sekadar urusan transportasi, melainkan bagaimana menghadirkan solusi jitu bagi ekosistem logistik Indonesia. Dengan kondisi geografis yang mencakup lebih dari 17.000 pulau, program Makan Bergizi Gratis (MBG) menghadapi hambatan yang sangat kompleks.

Hasyim mengatakan, Indonesia memiliki tipologi wilayah yang sangat kontras. Di saat distribusi di Pulau Jawa didukung oleh tol trans-Jawa, distribusi di wilayah seperti Pegunungan Tengah Papua atau pedalaman Kalimantan menghadapi tantangan lebih berat.

Di beberapa titik, logistik hanya bisa ditempuh melalui jalur udara (pesawat perintis) atau jalur sungai yang sangat bergantung pada debit air.

Masih banyak desa yang aksesnya rusak atau bahkan belum di aspal, sehingga pengiriman bahan pangan segar berisiko mengalami kerusakan di perjalanan.

Di pelosok, ketersediaan listrik yang belum stabil membuat penggunaan lemari pendingin (freezer) skala besar menjadi sulit.

“Ongkos kirim satu kotak susu ke pedalaman bisa jauh lebih mahal daripada harga produk itu sendiri. Tanpa strategi pengadaan yang efisien, anggaran MBG berisiko lebih banyak habis di bensin. Beruntung susu kemasan kini memiliki waktu kedaluwarsa hingga setahun, sehingga satu masalah bisa ada solusinya,”paparnya.

Hasyim mengatakan, susu dikemas dengan menggunakan teknologi kemasan karton berlapis yang memungkinkan produk cair seperti susu UHT bertahan hingga 12 bulan tanpa pendingin. “Ini adalah game changer untuk distribusi ke wilayah tanpa infrastruktur listrik,”tutupnya.

Solusi Lamipak untuk Negeri

 Di tengah kebutuhan akan distribusi pangan berkualitas ke seluruh pelosok negeri, PT Lami Packaging Indonesia (Lamipak Indonesia) hadir sebagai pilar penting dalam penyediaan solusi kemasan aseptik yang menjamin keamanan nutrisi, khususnya untuk produk susu sebagai komponen utama gizi anak sekolah.

Melalui investasi jumbo senilai USD 200 juta (sekitar Rp3,1 triliun), Lamipak telah membangun fasilitas produksi di Cikande, Kabupaten Serang, Banten. Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 16 hektare (dengan potensi pengembangan kawasan hingga 130 hektare) ini merupakan pabrik kemasan aseptik berbasis kertas pertama dan tercanggih di Indonesia.

“Kemasan aseptik yang kami produksi mampu menyimpan susu hingga setahun,”ungkap Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi kepada Kabarindo.com saat berkunjung ke pabrik Lamipak 20 Januari 2026 silam.

Kapasitas produksi Lamipak telah mencapai 21 miliar kemasan per tahun setelah selesainya ekspansi tahap kedua. Skala produksi yang masif ini memungkinkan industri makanan dan minuman (mamin) nasional untuk menekan biaya kemasan hingga 20–30%, yang secara langsung meningkatkan efisiensi anggaran program MBG.

Lamipak memproduksi kemasan karton aseptik berlapis yang dirancang untuk menjaga kesegaran produk cair seperti susu UHT dan jus buah hingga 9–12 bulan tanpa memerlukan bahan pengawet atau pendinginan. Teknologi ini sangat krusial bagi distribusi MBG di daerah terpencil yang memiliki keterbatasan infrastruktur cold chain.

“Dengan Teknologi Industri 4.0 proses produksi otomatis untuk meminimalisir kontaminasi manusia,”imbuh Rizalmi.

 Fasilitas produksi Lamipak meraih sertifikasi LEED Gold dan memproduksi sedotan kertas sebagai pelengkap kemasan berkelanjutan.

Kehadiran Lamipak, lanjut dia, juga memperkuat neraca perdagangan Indonesia. Sebelumnya, kebutuhan kemasan aseptik nasional hampir 100% bergantung pada impor. Kini, dengan produksi lokal, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga membidik pasar ekspor ke lebih dari 80 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa keberadaan Lamipak memperkuat hilirisasi industri dan menciptakan kemandirian nasional. Dengan mempekerjakan ratusan tenaga kerja terampil dan mendukung penggunaan panel surya atap (Solar PV Rooftop), perusahaan ini menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip keberlanjutan.

Melalui sinergi antara teknologi pengemasan tingkat tinggi dan program MBG, Lamipak Indonesia memastikan setiap tetes susu yang dikonsumsi generasi masa depan tetap terjaga kemurnian dan gizinya.

“Selain aspek distribusi, tantangan utama dalam program susu nasional adalah menjaga kualitas nutrisi agar tetap terjaga hingga ke tangan anak-anak di seluruh pelosok Nusantara. Di sinilah peran teknologi kemasan menjadi kunci,”tegas Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li.

Dia pun menyoroti bahwa rendahnya konsumsi susu berisiko menghambat ambisi Indonesia mencapai masa keemasan di tahun 2045. “Kami mendukung program susu gratis yang disisipkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda,”tegasnya.