Penipuan Digital Naik Kelas, Publik Harus Waspadai Perkembangan Scam
Penipuan Digital Naik Kelas, Publik Harus Waspadai Perkembangan Scam
KABARINDO, SURABAYA - Ancaman penipuan digital atau scam berkembang dengan pola yang semakin adaptif dan beragam, seiring pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menyoroti kondisi tersebut, VIDA, penyedia solusi digital identity dan fraud prevention di Indonesia, memperluas diskusi publik mengenai urgensi penguatan kepercayaan digital (digital trust) melalui partisipasi Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, dalam podcast Endgame bersama Gita Wirjawan.
Dalam diskusi tersebut, Niki menekankan pelaku scam tidak lagi bisa dipandang sebagai individu yang bergerak sendiri. Di balik banyak serangan digital saat ini, terdapat jaringan yang lebih rapi, terkoordinasi dan didukung kemampuan teknis yang semakin canggih.
“Penipuan sekarang tidak lagi bergerak secara acak atau dilakukan sendirian. Modusnya sudah makin rapi, terstruktur, bisa dijalankan dalam skala besar dan kecanggihannya terus berkembang pesat,” ujar Niki.
Diskusi ini sekaligus menandai peluncuran resmi whitepaper VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook, yang memotret bagaimana lanskap penipuan digital di Asia Tenggara terus berkembang dari sisi kecanggihan serangan, pemanfaatan teknologi generatif, maupun cara pelaku membaca momentum kepercayaan dan pergerakan likuiditas masyarakat.
Niki menekankan, scam kini telah berkembang menjadi bisnis kriminal lintas negara dengan nilai ekonomi yang sangat besar. Ia mencontohkan pengungkapan kasus yang melibatkan Kamboja dan Myanmar dengan penyitaan aset Bitcoin senilai 14 miliar dollar AS (setara dengan lebih dari Rp238 triliun). Niki juga menyoroti laporan tentang 800 warga negara Indonesia (WNI) yang mengantre di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja untuk pulang setelah terjebak dalam kerja paksa jaringan scam. Kasus ini menegaskan bahwa scam bukan lagi penipuan digital biasa, melainkan persoalan lintas negara dengan dampak yang semakin besar.
Di saat yang sama, perkembangan AI seperti deepfake dan synthetic identity membuat batas antara yang nyata dan palsu semakin tipis. Teknologi ini memungkinkan konten palsu tampil lebih realistis, meyakinkan dan diproduksi jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu. Kondisi ini menghadirkan tantangan baru bagi ekosistem digital, karena mampu memalsukan identitas, juga mempengaruhi rasa percaya pengguna terhadap interaksi dan transaksi digital.
“Ketika teknologi membuat sesuatu yang palsu tampak sangat nyata dan meyakinkan, tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita membangun kembali trust di ruang digital,” ujar Gita Wirjawan.
Melalui diskusi ini, VIDA menegaskan bahwa menghadapi lonjakan penipuan digital tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan. Di satu sisi, dibutuhkan perubahan yang lebih mendasar dalam membangun dan menjalankan sistem digital, agar lebih siap menghadapi ancaman yang terus berkembang. Di sisi lain, penguatan literasi publik juga tetap penting, agar masyarakat semakin memahami berbagai pola scam yang terus berevolusi. Sejalan dengan hal tersebut, VIDA terus memperluas akses edukasi publik melalui laman Where’s The Fraud Hub, yang menghadirkan whitepaper, studi kasus, data terkini dan panduan praktis. Inisiatif ini juga menjadi landasan kampanye literasi publik VIDA, #JanganAsalKlik, yang mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan tidak mudah percaya pada komunikasi digital yang tampak meyakinkan.
Foto: ilustrasi - istimewa
Comments ( 0 )